fbpx

Kenapa Dinamakan Baju Koko? Ini Sejarahnya!

Baju koko sangat identik sebagai pakaian untuk pria muslim. Baju koko utamanya dikenakan oleh pria muslim untuk kegiatan-kegiatan keagamaan. Mulai dari pakaian untuk lebaran, untuk kajian ataupun untuk beribadah ke Masjid.

Seiring dengan perkembangan trend fashion yang berjalan, trend baju muslim untuk pria pun ikut mengalami trend pula. Kini baju koko sendiri sudah banyak yang hadir dengan desain trendy dan kekinian, namun tetap syar’i. Sehingga baju koko kerap pula dikenakan dalam acara-acara non formal.

Kenapa Dinamakan Baju Koko

Alasan Kenapa Dinamakan Baju Koko

Nah, lantas tahukah Anda baju untuk pria muslim kenapa dinamakan baju koko? Baju koko nyatanya hadir bukan tanpa sejarah. Ada sejarah menarik mengapa baju untuk pria muslim identik disebut sebagai baju kko.

Ternyata baju koko di Indonesia sendiri asalnya adalah dari baju turun termurun masyarakat Tiongkok yang disebut sebagai Tui-Khim. Baju ini sudah ada sejak abad ke-17 silam dan kala itu masyarakat Tionghoa datang ke tanah Batavia memakai baju tersebut.

Baju Thui-Khim kemudian di kalangan masyarakat Betawi dikenal dengan sebutan Tikim. Model baju tersebut identik dengan kancing yang hanya sedikit di bagian atas saja, layaknya baju koko kebanyakan yang kita jumpai.

Masyarakat Betawi dulu pada umumnya mengkombinasikan baju tersebut dengan celana batik. Sampai dengan abad ke-20, masih banyak masyarakat pria Tionghoa yang ada di Indonesia memakai baju Thui-Kim serta celana yang longgar sebagai outfit keseharian.

Kenapa Dinamakan Baju Koko? Ini Sejarahnya!

Kemudian, kenapa diamakan baju koko sekarang ini? Padahal asalnya disebut sebagai Thui-Kim. Budayawan Remy Sylado menjelaskan kalau umumnya yang mengenakan baju tersebut pada awal keberadaannya adalah engkoh-engkoh, yang mana sebutan itu dieja dalam bahasa Indonesia menjadi Koko.

Sebagian besar diantara kita tentu tak asing dengan pria Tiongkok yang dipanggil dengan sebutan “koko” dan wanita Tiongkok yang dipanggil dengan sebutan “cici” bukan? Nah, kurang lebih seperti itu kenapa dimanakan baju koko seperti sekarang kita kenal.

Lambat laun baju Thui-Kim sendiri justru mulai ditinggalkan oleh para peranakan Tinghoa muda. Mereka lebih memilih pakaian Eropa, seperti jas. Baju Thui-Kim kemudian justru disukai oleh masyarakat pribumi dan mulai nyaman untuk mengenakannya sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan juga dikenakan dalam acara-acara formal.

Awal baju koko mulai dikenakan orang Indonesia tak lain kebanyakan adalah pria Betawi. Baju koko yang dipakai adalah yang umum yaitu bewarna putih dan dikombinasikan dengan celana batik longgar. Pakaian itu seolah kemudian jadi trademark para masyarakat pria asal Betawi sekaligus orang-orang muslim lantaran masyarakat Betawi juga identik dengan orang muslim yang berpengaruh di Batavia.

Nah, kini Anda sudah tahu kenapa dinamakan baju koko baju yang identik di kenakan oleh pria muslim. Baju koko kini di Indonesia jelas bukan lagi jadi baju yang asing. Seiring dengan trend fashion muslim yang ikut berjalan mengikuti perkembangan zaman, baju koko telah hadir dengan desain-desain yang sangat begitu variatif.

Ditambah lagi juga dibarengi dengan munculnya brand-brand ternama khusus menghadirkan fashion item untuk pria muslim. Seperti Samase, brand lokal Indonesia yang namanya sudah mentereng. Samase secara khusus hadir dengan produk-produk fashion item untuk pria muslim. Mulai dari baju koko, peci, celana sirwal dan lain sebagainya.

Baju koko Samase pun hadir dengan desain yang trendy dan sangat kekinian. Sangat cocok untuk pria moden era kini. Tidak perlu khawatir jika ingin memiliki produk-produk terbaik dari Samase. Anda dapat mengakses toko online Samase di samase.co.id untuk melakukan pembelian secara online.

One thought on “Kenapa Dinamakan Baju Koko? Ini Sejarahnya!

  1. Tabri says:

    Pendapat yang hampir masuk akal.
    Apalagi dengan argumen cukup meyakinkan.
    Tapi saya punya pendapat berbeda.
    Kalau kita melihat pakaian tradisional negara Arab dan semua negara-negara di timur tengah baju mereka tidak ada yang menggunakan krah seperti baju masyarakat eropa. Jika lantas model krah dijadikan alasan penyebutan pakaian pria muslim berasal dari pakaian tradisional Tionghoa. Maka itu salah besar. Menurut pemahaman saya baju dengan model krah baju koko tersebut merupakan bentuk pakaian bangsa timur dan asia pada umumnya. Sebagai bukti lihat saja pakaian tradisional dari setiap negara asia dan timur tengah. Semua bentuk krah baju laki-laki seperti itu, mulai Arab, India, Thailan, Vietnam, Philina, China, Korea, Jepang, Melayu, dan lain-lain bahkan termasuk pakaian negara Rusia tempo dulu.
    Jadi baju koko yang dikenal di Indonesia adalah diadopsi dari pakaian tersebut khususnya negara Arab. Karena mayoritas masyarakat melayu adalah muslim maka sudah selayaknya kiblat itu ke sana. Namun kemudian disesuaikan dengan keadaan setempat maka dibuat pendek tidak panjang seperti baju Arab. Seiring perkembangannya menjadi pakaian laki-laki bangsa Melayu yang mayoritas memluk agama islam.
    Jika lantas dalam penyebutan sehari-hari ada istilah penyebutan baju koko. Itu karena melihat bahwa krah baju itu mirip dengan baju yang dipakai oleh masyarakat laki-laki Cina. Dan karena orang Indonesia tidak bisa memberi nama pada pakaian tersebut, maka untuk gampangnya disebutlah denga baju koko.
    Penamaan yang tidak sengaja itu akhirnya diklem oleh masyarakat Tionghoa sebagai warisan budaya mereka. Ini konyol dan buta terhadap kebudayaan dinia. Jika demikian, lalu apakah negara-negara yang menggunakan pakaian dengan krah seperti itu mengadopsi dari Cina. Lalu apakah hanya Cina yang sejak dulu sudah berpakaian. Sungguh dasar pemikiran sang sangat picik. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa penamaan itu hanya secara kebetulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: